Facebook Twitter Google RSS
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2012

Movie The Raid free Download

Kevin Samara     03.48  No comments
The Raid adalah film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi oleh Iko Uwais. Pertama kali dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, para kritikus dan penonton memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahun-tahunsehingga memperoleh penghargaan The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award. Terpilihnya film ini untuk diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson(Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (UtahAS), South by Southwest Film (SXSW, di AustinTexas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan), menjadikannya sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia.
Sumber, Wikipedia


Trailer


Download 
kalau son bisa, klik ini link sa http://files.indowebster.com/downloads/bgdbaeh/n4f454h5v5e5a4j504o4c4l5i5t5x5l4i4u5m434r4o544o5b4l5x574d4j5t5h4k4e4

Film ni Sadis...

Jumat, 24 Agustus 2012

Pemutaran Film Soegija di Atambua

Kevin Samara     02.46  No comments
Pada tanggal 23 Agustus Kemarin, di lantai dua balai Nazaret Gereja St. Maria Imaculata, Katedral Atambua diadakan pemutaran perdana film Soegija bagi umat keuskupan Atambua. Pemutaran film perdana yang bernafaskan iman Katolik ini mendapat antusias yang cukup tinggi dari umat keuskupan Atambua, khususnya kaum remaja dan kaum muda. Minat untuk menyaksikan film karya sutradara kondang Garin Nugroho yang berdurasi 1 jam 50 menit ini datang dari para pelajar SMP dan SMA serta kaum muda yakni Orang Muda Katolik (OMK).

Salah satu kaum muda katolik, yakni Stefanus Adrian mengungkapkan,“Mgr. Soegija merupakan figur yang nasionalis. Ia berjuang bukan untuk kalangan Katolik saja tetapi atas nama bangsa Indonesia. Ini yang perlu dipetik dari figur seorang Mgr. Soegija disaat bangsa kita di jaman sekarang mulai kehilangan rasa nasionalismenya. Sebagai kaum muda bangsa ini saya melihat perlu membangkitkan kembali nasionalisme yang sudah mulai mati khususnya dikalangan kaum muda melalui minat dan dunia kami. Salah satunya adalah melalui media film,"jelasnya.

Adrian juga menambahkan bahwa anggapan dan polemik yang beredar di masyarakat mengaggap film Soegija sebagai Kristenisasi. Mgr. Soegija sangat nasionalis dan solider, dan melalui film ini kita bisa memetik nilai-nilai nasionalisme dan solidaritas untuk menghargai setiap perbedaan yang ada” tuturnya. Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pelajar yang meminta namanya tidak di cantumkan. Ia melihat semakin lunturnya semangat nasionalisme dikalangan para pelajar yang ditandai dengan makin maraknya berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pelajar.

tawuran antar pelajar disebabkan oleh solidaritas yang salah serta nasionalisme yang sudah luntur. Melalui film Soegija ini, sang sutradara ingin menunjukan apa itu nasionalisme dan solidaritas sejati, tutur pelajar yang tidak mau menyebutkan namanya kepada penulis.

Pemutaran film Soegija yang berlangsung dari pukul 18.00 WITA hingga pukul 22.00 WITA ini dilangsungkan selama dua kali mengingat minat umat yang cukup tinggi. Dalam dua kali sesi pemutaran film ini dipenuhi oleh para penonton yang umumnya para pelajar dan OMK serta para Suster dan beberapa Pastor.

Film Soegija ini mendapat sambutan positif dari kaum muda dan remaja, mengingat Atambua merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste. Untuk kedepannya, Film ini direncanakan akan diputar beberapa kali karena selama ini umat Atambua hanya membaca di media masa tentang Mgr Soegija, bahkan banyak umat yang belum mengenal siapa itu Mgr. Soegija. Pemutaran perdana film Soegija telah dilakukan pada tanggal 7 Juni 2012 lalu diseluruh Indonesia.

Soegija


Soegija 2012.jpg
SutradaraGarin Nugroho
ProduserDjaduk FeriantoMurti Hadi Wijayanto SJ, Tri Giovanni
PenulisArmantonoGarin Nugroho
PemeranNirwan DewantoAnnisa HertamiWouter Zweers,Wouter BraafNobuyuki SuzukiOlga Lydia,MargonoButet KartaredjasaHengky SolaimanAndrea Reva,Rukman RosadiEko BalungAndriano Fidelis
MusikDjaduk Ferianto
SinematografiGarin Nugroho
EditingGarin Nugroho
StudioStudio Audio Visual PuskatYogyakarta
Tanggal rilis
Durasi115 menit
NegaraBendera Indonesia Indonesia
BahasaIndonesia
Jawa
Belanda
Jepang
AnggaranRp 12 Miliar

“Soegija”, yang berkisah tentang pahlawan nasional Mgr Albertus Soegijapranata SJ. Pada acara diskusi tentang film tersebut di Jakarta, Kamis, Garin mengatakan sebagian pemeran dalam film bertema kemanusiaan dengan latar jaman perang kemerdekaan (1940-1949) itu adalah pemain pendatang baru.

Tokoh Soegijapranata akan diperankan oleh Nirwan Dewanto. Nama-nama seperti Annisa Hertami, Andrea Reva, Olga Lydia, Butet Kertarajasa, dan sejumlah pemain film asal Belanda dan Jepang juga terlibat dalam film tersebut. Menurut Garin, film yang menghabiskan biaya hingga Rp 12 miliar itu berbeda dengan beberapa filmnya yang lain seperti “Opera Jawa” dan “Puisi Tak Terkuburkan” yang memang diperuntukkan untuk pasar Eropa dan festival film di sana. Garin juga menyebut akting para pemain yang sangat berkarakter seperti film buatan Holywood, tapi tetap menonjolkan sisi Indonesia terutama dalam musiknya.

 “Ketika saya akan membuat film ini semua orang berpikir filmnya akan sulit dimengerti, tetapi setelah mereka melihat proses pembuatan filmnya hal itu tidak terbukti,” kata Garin, seperti dilansir ANTARA. Ia juga mengatakan bahwa meski berkisah tentang tokoh Katolik namun film itu bisa dinikmati semua kalangan masyarakat karena lebih menonjolkan sisi kemanusiaan.

Sedikit Cerita


Ketika Jepang datang ke Indonesia di tahun 1942, Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budha, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya
anak di Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Belanda enggan mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengirim tentaranya untuk menjajah kembali Indonesia. Pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogjakarta untuk menjaga kedaulatan. Semua pejuang gerilya mengepung Yogjakarta. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat membabi buta mencari gerilyawan.
Namun, pada akhirnya, ia tersentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya, bukan negaranya. Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang.
Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian. Dengan posisinya sebagai uskup, Soegija melakukan diplomasi diam-diam. Mengirim surat ke Vatikan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
Sebagai pemimpin agama Katolik, Soegija membuka gereja sebagai tempat perlindungan pengungsi. Kisah film ini bukan soal penyebaran agama tertentu. Soegija menyorot bagaimana agama menyentuh kemanusiaan setiap orang, penjajah maupun terjajah.
Berikut Trailer film Soegija...



Sumber,http://berita.plasa.msn.com
             http://www.kabargereja.tk/
            http://id.wikipedia.org

Kamis, 23 Agustus 2012

Bulan September 2012 Film Atambua 39 Derajat Celsius Diluncurkan

Kevin Samara     02.03  No comments
Tidak sabar lagi  mau nonton film Atambua 39 Derajat Celsius. Film Ini diProduseri oleh film Mira Lesmana. Dari kabar angin, katanya film ini akan dirilis pada bulan september ini. Sudah mau dekat. Film ini mengisahkan tentang kabar hidup para eksodus dari Timor Leste kini setelah 12 tahun referendum. 


Dalam film yang semua aktornya diperankan warga Timor itu, digunakan sepenuhnya bahasa Tetun,bahasa asli Belu. Nanti barulah pada saat peluncuran film ini ditambahkan Sub-title Indonesia untuk membantu para penonton.

Produser film Mira masih mencari dana komersil untuk peluncuran. Produserpun menginginkan film ini nantinya bukan hanya sebagai penghibur, melainkan juga sebagai pesan bagi semua penonton. “Saya ingin film ini benar-benar punya sisi lain, tak sekedar menghibur,” 

Apa yang terjadi di Atambua saat ini, kata Mira, tak lebih dari sebuah victim politic. Namun produser film Eliana-Eliana itu tak ingin fokus pada sisi politik, melainkan sisi kemanusiaan yang terjadi di sana.

Produser Mira mengaku sudah jatuh cinta dengan pulau Timor dan menilai fungsi film baginya adalah menjadi pengingat atas hal-hal yang sudah terlupakan, tak sekedar menghibur. Dengan diluncurkan film Atambua 39 Derajat Celsius maka film ini juga mendorong terjadinya perubahan pola pikir, dari yang buruk menjadi baik. Seting Atambua sengaja dipilih Mira sebagai kritik tak langsung juga atas perkembangan industri film saat ini yang hanya mengambil latar Jakarta dan sekitarnya. “Apa Indonesia itu cuma Jakarta?” kata pendiri Miles Production itu. 


Hal menarik dari film Atambua 39 Derajat Celsius adalah pendanaan film ini yang bergantung pada crowdfunding, sebuah istilah pengumpulan dana melalui situs-situs tertentu, dimana suatu proyek bisa diumumkan kebutuhannya dan jangka waktu penggalangan dananya. Para donatur bisa menyumbang berapapun dengan nilai nominal minimal Sebagai imbalan bagi para donatur bukanlah saham ataupun keuntungan namun bisa hanya berupa ucapan terima kasih dan produk setelah proyek selesai atau bisaapapun terkait hasil proyek.
Salah satu situs yang terkenal di dunia dalam hal penggalangan dana ini adalah Kickstarter di AS. Kickstarter telah menghasilkan ratusan juta dollar untuk berbagai proyek kreatif dari musik, film, internet, produk, dll. Ouya, konsol game  murah berbasis Android juga mendaftarkan proyek mereka di sana dan menghasilkan USD 3 juta lebih dalam waktu 2 hari.
Atambua 39 Derajat Celsius adalah salah satu proyek yang berhasil mendapatkan banyak dana dari crowdfunding. Melalui Wujudkan, dana sebesar IDR 312.837.000 terkumpul dari 102 donatur. Tentu saja, hal ini bisa menjadi terobosan di dunia industri kreatif. Dana besar selalu menjadi penghalang kekreatifan dan dengan crowdfunding semoga saja bisa menjadi solusi untuk menghasilkan konten bermutu dari industri kreatif. Saksikan film Atambua 39 Derajat Celsius yang akan rilis pada bulan September ini.


Wah saya bangga dengan Atambua karena semakin banyak Produser berdatangan untuk memperkenalkan Atambua tersayang kepada Dunia luar. Karena filmnya belum Keluar, saya kasih alur pembuatan film ini ya.

Selamat Menyimak...



Latest Stories

Blogroll New

Text Widget


Iklan ini milik Chelsea Net

Recent news

Iklan ini milik toko Merlin

About Us

Proudly Powered by Blogger.