Facebook Twitter Google RSS
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

Peningkatan Aksi Anti Penimbunan BBM

Kevin Samara     01.54  No comments
ATAMBUA, - Dalam sebulan terkahir, Polisi Resort (Polres) Belu gencar melakukan operasi terhadap maraknya aksi penimbunan bahan bakar minyak (BBM), yang diduga akan diselundupkan ke Negara tetangga, Timor Leste-RDTL.
Dalam operasi tersebut, tepatnya di wilayah perbatasan Mota’ain Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, polisi berhasil mengamankan sejumlah BBM jenis bensin, solar dan mitan yang ditimbun dengan jumlah 1.700 liter.
“Operasi tersebut dilakukan berkenaan dengan semakin maraknya transaksi BBM yang dibawa dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat dari dalam kota menuju ke wilayah perbatasan. Kita operasi sesuai dengan mekanisme dan sasaran, yakni penimbunan. Karena itu sudah menyalahi aturan,” ungkap Wakil Kapolres (Wakapolres) Belu, Kompol. Jhony D. Muskanan, kepada BeritAnda.com, Senin (4/11/2013) di Atambua.
Dijelaskan dia, operasi penertiban BBM sedah dilakukan dalam sebulan terakhir dan akan terus dilakukan sampai tidak ada lagi aksi penimbunan, apalagi transaksi penyelundupan.
“Kita akan terus tertibkan melalui operasi dan akan kembangkan pemilik barang bukti berupa BBM yang telah ditahan dan siapa pemilik barang itu, akan dicari tahu,” tegas Muskanan.
Lanjut dia, aksi transaksi BBM dengan modus menggunakan kendaraan ojek belakangan ini kembali marak. Karena itu setiap Polsek yang berada pada jalur menuju perbatasan difungsikan guna penertiban terhadap kendaraan yang membawa BBM.
“Kalau begini aksi penimbunannya masih banyak, hanya kita belum tahu dimana lokasi penimbunannya. Saat ini kita sedang dan terus lakukan operasi penertiban BBM, sehingga bisa kita ungkap siapa pemiliknya dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” pungkas Muskanan.

Selasa, 18 September 2012

Antrian panjang Pengguna BBM

Kevin Samara     21.42  No comments
Antrian panjang BBM di Atambua semakin marak terjadi. Kali ini giliran BBM berjenis solar yang mengalami kelangkaan. Antrian panjang di SPBU Halifehan adalah yang terparah. Dari pantauan saya di lokasi, dilihat antrian kendaraan besar atau truk mencapai 80 m dari pertigaan SMPK Don Bosco sampai ke SPBU Halifehan. Hal ini menyebabkan kemacetan panjang yang tak terelakan.

Kelangkaan pasokan BBM di Atambua telah terjadi sekitar bulan Agustus lalu. Kelangkaan BBM di SPBU terjadi akibat pembelian BBM menggunakan jerigen atau tangki pada motor-motor nakal untuk mendapat keuntungan dari penjualan BBM tersebut. “Harga BBM yang dijual secara eceran sekarang tidak sesuai lagi dengan takaran sesungguhnya. Misalnya, bensin yang dijual eceran di pinggir jalan raya dengan harga per liter Rp 5.000, tidak sesuai lagi dengan takarannya kalau diisi di dalam botol 1 liter. Bensin yang diisi di dalam botol 1 liter itu tidak penuh. Bahkan, setengah saja. Kalaupun penuh harganya berkisar Rp 6.000-7.000,” sebutnya.

"Mobil yang merombak tangkinya, contoh mobil jenis (Toyota) Kijang kalau normal biasanya kapasitas 60 liter, tetapi setelah dimodifikasi bisa sampai 280 sampai dengan 300 liter. Selanjutnya juga penertiban motor-motor ojek yang ambil minyak dengan cara tap (berulang-ulang masuk SPBU), serta pemilik dan karyawan SPBU yang nakal," jelas Taolin.

Warga lainnya, Saul Naben menambahkan, kelangkaan BBM yang makin marak terjadi di Belu membuat antrean kendaraan makin panjang setiap hari. Bahkan terkadang, banyak SPBU ditutup lebih awal karena kehabisan BBM.

Ia juga menyebutkan harga eceran BBM jenis premium melonjak, padahal takarannya tidak sesuai lagi dengan takaran sesungguhnya sebelum terjadi kelangkaan BBM. Misalnya, harga eceran bensin per botol/liter dijual dengan Rp 5.000 tapi akhir-akhir ini harganya Rp 7.000.

“Saat ini, yang masih jadi masalah serius adalah soal BBM. Di Atambua, BBM semakin hari semakin susah dicari. Harga bensin di eceran saja tidak sesuai dengan takarannya. Kelangkaan BBM makin marak terjadi. Saya tidak tahu siapa yang salah dan bertanggung jawab soal kelangkaan ini. Seharusnya pemerintah melakukan tindak tegas terhadap para penimbun BBM ,” jelas Edi Seran.



Kevin Samara

Jumat, 07 September 2012

Video Porno Hebohkan Belu

Kevin Samara     23.06  No comments

Ilustrasi artikel
Masyarakat Belu dihebohkan dengan beredarnya video porno yang melibatkan korban  siswi  SMP di Belu sejak bulan Juni 2012. Kasus ini telah dilaporkan keluarga korban ke Mapolres Belu sejak tanggal 29 Juni 2012, namun sampai sekarang belum diproses setelah sebelumnya tanggal 26 Juni dilaporkan ke Polsek Tasifeto Timur.

Keluarga korban meminta agar kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku dan tidak ditunda. Jika Polres Belu tidak bisa menanganinya, keluarga akan melapor ke Mapolda NTT dan Polri di Jakarta.

Salah satu keluarga korban, Matheus YM Leto tanggal 5 September lalu menjelaskan, sebagai keluarga korban, pihaknya merasa malu dengan kasus yang menghebohkan ini. Pasalnya, korban MP berumur 16 pelajar kelas III sebuah SMP di Belu ini melakukan adegan tanpa sensor dengan teman kencannya, AB,  dalam kondisi bugil dimana korban berdiri sebanyak 2 kali dan posisi duduk sebanyak 1 kali.

Kasus ini, kata Matheus, sangat menghebohkan karena video porno ini telah beredar pada masyarakat Belu khususnya orangtua korban yang mendapatkan foto dan video yang melibatkan korban MP ini dari anak kandungnya sendiri.

"Ini kasus ni bikin heboh sa dan sa sendiri dapat ini video itu dari saya pung anak, Maria R Araujo Mau Leto.Itu video saya pung anak dapat dari dia pung teman dong. Karena menyangkut nama baik keluarga saya, apalagi saya dipanggil korban, kakek, maka tanggal 26 Juni kami melaporkan ini kasus ni ke Polsek Tasifeto Timur. Saya rasa itu gambar asli, makanya kami mengadukan masalah ini untuk diproses lebih lanjut. Sejak kami lapor di polsek, tidak ada tindak lanjut, maka pada tanggal 29 Juni 2012 kami laporkan lagi ke Mapolres Belu, tapi sampai dengan September 2012 ini kasus tersebut seperti didiamkan," tegas Matheus.

Dasar dari pelaporan ini, kata Matheus, kasus ini diketahui hampir sebagian besar warga sehingga secara tidak langsung merusak nama baik keluarga, juga dari segi moral tidak dibenarkan. Untuk itu, pihak keluarga meminta agar kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku dan memroses juga pelaku yang mengambil video tersebut.

"Kami akan terus mendesak jajaran Polres Belu untuk memroses kasus ini. Kami tidak punya kepentingan apapun dalam masalah ini semata-mata untuk penegakan hukum. Karena perbuatan seperti ini merusak moral remaja di daerah ini. Kami hanya mempertanyakan kenapa kasus ini sudah dilaporkan sejak Juni 2012 namun hingga kini tidak diproses, ada apa? Kalau memang Polres Belu tidak berani memroses, maka kami akan mengadukan masalah ini ke Mapolda NTT, juga ke Polri," ujar Matheus.

Terhadap persoalan ini, Kapolres Belu, AKBP Darmawan Sunarko, ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang melalui Kasat Reskrim, AKP I Nyoman Budi Artawan, S.H, S.Ik, membantah kalau kasus ini didiamkan.

Menurutnya, penyidik terus melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan pada korban, juga saksi-saksi. Dan, dari keterangan yang disampaikan korban bahwa gambar ataupun video yang ada bukan dirinya. Untuk membuktikan asli atau tidaknya sosok dalam video itu, kata Nyoman, penyidik tengah berupaya untuk ke Jakarta menemui pakar IT, Roy Suryo, untuk memastikan keaslian dari gambar tersebut.

"Kami sudah tanya kepada korban dan korban menyampaikan itu bukan gambarnya. Kalau korban saja tidak mengakui bagaimana kita bisa tetapkan tersangka. Jadi, kasus ini masih terus kita selidiki dan caranya adalah menemui pakar IT, Roy Suryo untuk mendapatkan kejelasan. Sekali lagi kami sampaikan bahwa kasus ini masih terus kita selidiki. Memang pihak keluarga terus mempertanyakan bahkan mau diadukan ke Mapolda NTT, saya bilang silakan. Kita bukannya mendiamkan tapi kita masih selidiki karena tidak bisa melihat begitu lantas menyampaikan bahwa ini benar gambarnya. Perlu ada keterangan saksi ahli yang mengerti betul soal gambar itu apakah benar asli korban atau tidak," tegas pak Nyoman.

Sumber, 

  • Pos Kupang  
  • bangka.tribunnews.com
  •  kompas.com

              Dengan sedikit tambahan

RI-RDTL Selenggarakan Tour De Timor

Kevin Samara     03.06  No comments
Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Timor Leste pada tanggal 5 september lalu mengadakan jumpa pers di Hotel KingStar untuk mempererat hubungan diplomatik kedua negara ini. Pada jumpa pers ini, pemerintah Indonesia bersama pemerintah Timor Leste mengadakan Tour De Timor yang akan berlangsung dari Tanggal 10 September sampai 16 September 2012.

Pada jumpa pers tersebut, konsul Timor Leste untuk Indonesia Feliciano Da Costa mengatakan bahwa dalam event Tor De Timor ini, kedua negara mempunyai tujuan yaitu


  • Misi Perdamaian  

Misi Perdamaian untuk mengatakan kepada dunia internasional bahwa wilayah perbatasan RI dan RDTL sampai dengan saat ini tetap aman dan kondusif. Sementara itu 


  • Misi Pariwisata

Misi Pariwisata untuk mengenal dan mempromosikan potensi pariwisata kedua negara terutama di garis perbatasan.

“Kedua misi inilah yang akan kami usung dalam Tour De Timor ini, dan kami yakin bahwa Misi Perdamaian dan Misi Pariwisata akan mendapat tempat yang istimewa dalam penyelenggaraan event ini,” kata Feliciano Da Costa.

Beliau juga mengharapkan adanya dukungan penuh dalam penyelanggaraan Tour De Timor ini. “Kami mengharapkan dukungan penuh dari masyarakat di perbatasan, sehingga event tahunan ini bisa berjalan sukses seperti penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya,” ucap Feliciano Da Costa.

Panitia penyelenggara Tour De Timor mengatakan bahwa para peserta Tour De Timor yang berjumlah lebih dari 110 peserta lokal dan 200 peserta asing  ini akan dilepas di Dili Timor leste, lalu melewati Motaain dan menuju ke Oekusi melewati pintu perbatasan Wini dan akan kembali ke Dili melewati rute sebelumnya. Tour De Timor ini diikuti oleh 20 Negara

Berikut rute selengkapnya dalam Tour De Timor


Rute pertama Dili ke Motaain
Kamp Mota Ain terletak antara Timor-Leste dan  perbatasan Indonesia dan sangat dekat dengan kota Batugade. Riders  Tour de Timor sudah berpengalaman  dengan jalan yang sama seperti hari pertama tahun 2010. Jalan aspal sebagian besar datar di sepanjang pantai utara membuat untuk hari yang cukup cepat dan ada beberapa bukit beberapa tanjakan sepanjang jalan.Seperti yang Anda tahu rute jalannya Akan melewati Liquica dan Maubara (berhenti di benteng Belanda mantan Maubara yang juga memiliki facilties toilet Barat), Anda akan dapat mengawasi pantai yang menakjubkan dan dusun pesisir yang dot rute. Setelah Anda melewati fasilitas FFDTL di sebelah kiri Anda, Anda akan berada dalam 15 km dari kamp pertama di motaain  Anda telah hampir berhasil! Meskipun kedekatan Mota Ain perkemahan ini ke laut tidak akan ada kolam karena kehadiran buaya air asin di daerah tersebut.
Rute kedua Motaain ke Pante Makassar
Awal hari 2  Tour de Timor menuju ke Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah karena membuat jalan ke distrik unvisitied akhir Oekussi. Hari itu sendiri jalan-jalan hampir datar melalui NTT, (Nusa Tengarra Timur) dan kondisi jalan yang baik berarti bahwa hari itu perjalanan akan sangat cepat.Setelah balapan memasuki distrik pengendara Oekussi akan disuguhi pemandangan pantai yang sangat dramatis yang ada di sini. Perkemahan itu sendiri ada di Pante Makassar dan pengendara akan dapat menikmati berenang untuk mendinginkan setelah naik sepeda mereka. pergi keluar untuk ikan segar bbq yang akan disediakan oleh nelayan lokal dari daerah yang telah bertugas dengan membawa pulang  ikan pelagis bagi kita semua untuk dinikmati.
Rute ketiga Oecusse

Hari ketiga akan menjadi jalan berbukit seperti hari pertama. Perjalanan akan menantang untuk lomba tahun ini. 
Angka 8 rute akan mengambil pengendara melalui pegunungan tengah Oekussi dan akan menawarkan pemandangan garis pantai dari puncak tanjakan tangguh beberapa.Pengendara akan melewati Lifau, lokasi pendaratan asli sebelum Portugis untuk pembentukan koloni mereka di pulau Timor. Di sisi terang salah satu keuntungan dari rute tahun ini karena pengendara akan dapat meninggalkan tenda mereka di tempat dan tidak perlu khawatir tentang panggilan pagi untuk memuat konvoi ke depan. Happy days!
Rute keempat Pante Makassar ke Motaain
Diharapkan peserta untuk melihat banyak penonton keluar di jalan memberikan dorongan yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan rute hari ini. Yang akan menjadi bonus tambahan karena setelah empat hari datang akan menjadi rute tersulit tahun ini. 
Rute kelima Motaain ke Gleno

Ini adalah saat yang sulit yang akan terjadi, lima hari memiliki lebih dari 2000 meter dari pendakian untuk pengendara kita untuk menggigit gigi mereka dan sementara rute menawarkan beberapa warna dan indah khas pandangan pengendara akan membutuhkan semua tekad mereka untuk menyelesaikan. 
Lima hari terdiri dari sebagian besar kotoran dan jalan rusak. Lima hari ini akan mengingatkan semua orang mengapa Tour de Timor ditagih sebagai perlombaan MTB paling sulit di dunia. Iklim dingin dari Gleno akan menyambut perubahan dari panas terik di atas pantai dan sepanjang jalan pengendara akan dapat mengamati tahap akhir dari proses panen kopi.
Rute keenam Gleno ke Dili
Tour de Timor akan diselesaikan dengan naik turunnya rute lebih dari 50 km, tetapi dalam mode TDT sejati awal hari ini para pengendara akan bekerja keras dengan beberapa tanjakan curam. Untungnya setelah Anda mencapai puncak komunitas Bazartete semua menurun (kebanyakan pula) dari sana dan langsung kembali ke Dili akhir dari rute. Jalan itu sendiri adalah komposisi campuran kotoran dan aspal dengan tikungan tajam serveral pada keturunan.


Feliciano juga menyampaikan tema yang dibawa peserta dalam Tour De Timor ini yakni “Damai Tanpa Batas” Ricky T

Sumber Rute, www.tourdetimor.com

Rabu, 05 September 2012

Jagung Bose tu Orang Orang Timor Pung

Kevin Samara     23.03  No comments
Jagung bose adalah bubur jagung dengan campuran santan yang diolah dari buah kelapa yang diparut secara manual (tidak menggunakan santan yang dijual di toko/instan). Untuk membuat jagung bose, waktu yang diperlukan tidak sebentar. Namun demikian, proses pembuatannya sangat sederhana. Bahannya pun sangat mudah didapat di pasar-pasar tradisional.
 
Awalnya, jagung yang masih utuh dilulur atau direndam dalam air selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jagung ditumbuk lalu dicampur air dan ditapis untuk memisahkan kulit ari dari pecahan biji jagung. Pecahan jagung siap dimasak di atas tungku dengan nyala api sedang. Jagung direbus sampai setengah matang. Kemudian, masukkan kacang hijau. Selama kurang lebih dua jam, maka akan terbentuk kaldu yang mengental.
 
Setelah jagung matang dan terasa kental, masukkan garam secukupnya dan sedikit bumbu tambahan, seperti santan atau bumbu-bumbu lain. Dalam penyajiannya, jagung bose kerap ditambahkan dengan potongan iga sapi. Pada proses akhir perebusan setelah terbentuk kaldu yang mengental, masukkan potongan iga sapi tersebut. Tambahkan sedikit air lagi, lalu rebus kembali hingga daging matang. Jagung bose pun siap disajikan.
 
Jagung bose dapat pula disajikan panas-panas bersama lauk daging seì (daging asap) yang telah masak. Selain daging seì sebagai lauk pendamping, lawar ikan sardine pun bisa menjadi pasangan khas jagung bose.

Resep Jagung Bose

Kevin Samara     22.53  No comments
Bahan:
2 gelas jagung putih yang sudah ditumbuk dan dibuang kulitnya
½ gelas kacang beras
2 gelas (500 ml) santan
2 liter air
Bumbu:
Garam secukupnya, jangan terlalu banyak agar tidak “mengacau” rasa masakan yang disajikan bersama jagung bose. 

Cara membuat:

  • Jagung dan kacang beras direbus dengan sedikit garam.
  • Setelah empuk, masukkan santan atau tidak perlu, sesuai selera.
  • Jagung bose biasanya tawar, seperti  nasi dan roti tawar

Siapa yang mw masak ooo....

Sabtu, 01 September 2012

Husar Binan Tetuk No Nesan Diak No Kmanek

Kevin Samara     23.53  No comments
Merupakan semboyan masyarakat Belu dalam rangka mewujudkan cita-cita dan harapan menuju Belu yang sejahtera, nyaman, aman dan mempesona serta bersahabat. Arti semboyan di atas kurang lebih demikian : Dengan semangat persaudaraan kita membangun masyarakat Belu menuju tercapainya kesejahteraan lahir batin yang serasi dan seimbang.       Cita-cita, kemauan ataupun harapan masyarakat Belu untuk membangun Rai Belu (tanah Belu) menuju kesejahteraan lahir dan batin, tentunya membutuhkan suatu usaha keras dari semua unsur elemen masyarakat yang tidak dibatasi oleh status jabatan ataupun status sosial lainnya. Dalam ungkapan di atas tersirat usaha keras, peras keringat kalau perlu meneteskan darah dari masyarakat Belu untuk bersama-sama mewujudkan harapan yang diidam-idamkan.Sarwisu Nu Ata, Ha Nu Nain ( bekerja seperti hamba, makan seperti raja ). Semangat etos kerja yang kuat dan kemauan yang keras dalam menggapai cita-cita.

      Belu, dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman, melandasi cita-cita masyarakat Belu untuk membangun Rai Belu dengan rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa dibatasi sekat-sekat keanekaragaman yang ada, baik suku, agama maupun yang lainnya.  Tanpa persatuan dan persaudaraan, cita-cita untuk mewujudkan Belu Sejahtera akan terhambat.

      Suatu semboyan yang sangat indah dan sarat makna, sarat dengan semangat juang, sarat dengan rasa persaudaraan. Dan akan lebih indah lagi jika semboyan tersebut tidak muncul dalam permukaan bibir saja, namun pengejawantahan semboyan tersebut yang perlu dibuktikan.


Sumber, atambua-ntt.go.id

Rabu, 29 Agustus 2012

Sedikit Cerita Tentang Atambua

Kevin Samara     23.11  No comments

Pero Simundza (30 tahun) lelaki gagah dari Kroasia — negeri pecahan Yugoslavia– di jazirah Balkan sana, mungkin tak pernah membayangkan bahwa pada hari kesembilan bulan Juni tahun 2000 hidupnya akan berakhir di Atambua, sebuah kota yang sangat boleh jadi tak pernah terbayangkannya ada tercantum dalam peta dunia yang dikenalnya.


Namun, kematian Simundza –bersama dua rekannya– secara dramatis telah membuat Atambua disebut bahkan oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Koffi Anan, juga oleh para pemimpin dunia. Tiba-tiba saja Atambua identik dengan kekerasan Indonesia. Tiba-tiba saja Atambua sama dengan ancaman bagi para pekerja lapangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ini membikin Presiden RI tampak betul-betul terpojok. Ketika itu, di dalam negeri ia sendang diuber-uber gosip ala Lewinsky, datang ke Sidang Milenium PBB ditonjok ancaman Clinton yang menyerukan dunia mengisolasi Indonesia gara-gara tewasnya tiga staf Komisi Tinggi PBB untuk Masalah Pengungsi (UNHCR) di Atambua.

Boleh jadi, Clinton pun baru dengar saat itu, ada kota bernama Atambua. Tapi toh ia mengutus Menteri Pertahanan, William Cohen ke Jakarta untuk mendesak Gus Dur.
“Imbauan” Clinton sang ‘sherif dunia’ itu direspon baik oleh PBB –yang memang seringkali lebih mendengar Amerika ketimbang anggota-anggota lain dalam serikat itu– yang dengan segera mengetukkan palu sidang untuk mengeluarkan resolusi bagi Indonesia.

Bayangkan, Atambua –yang semula tak terbayangkan ada dalam peta– ternyata terpapar di atas meja para wakil dunia di dalam majelis yang disebut PBB: Tok! Palu diketuk, dan Resolusi PBB No 1319 resmi dilayangkan ke meja penguasa Indonesia.

Isinya, semacam instruksi agar Pemerintah RI membubarkan milisi yang saat ini ada di Timor Barat, menyusul terjadinya serangan atas markas UNHCR yang menyebabkan tiga orang pekerja kemanusiaan PBB tewas, di Atambua.
Atambua?
Ya, Atambua adalah kota terbesar kedua di pulau kecil Timor bagian barat Letaknya kurang lebih 270 kilo meter sebelah timur Kupang, langsung berbatasan dengan ‘negara’ tetangga, Timor Timur. Sebelum dibanjiri pengungsi, suasana kota berpenduduk 20.000 jiwa ini sunyi, tenteram dan damai. Mirip kota para pensiunan.

Bangunan paling menonjol di pusat kota adalah Gereja Katedral St. Maria Immaculata Atambua,  Kantor Bupati dan Gedung DPRD yang sekaligus menunjukkan bahwa Atambua adalah ibu kota kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Lapangan umum Atambua beserta gedung DPRD





Belu, dalam bahasa Tetun –bahasa lokal yang paling banyak digunakan penduduk Timor di bagian tengah hingga ke timur pulau itu, dan kini digunakan sebagai bahasa sehari-hari Timtim– berarti sahabat.

Penduduk asli Belu terdiri atas dua sub suku yang paling dominan, yakni Kemak dan Marae. Karakteristik umum orang-orang Kemak dan Marae ramah, terbuka, mudah akrab, lembut, dan menghindari konflik. Karena itu, mereka lebih sering memilih upaya damai untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Kalaupun ada masalah antartetangga atau antarkampung, para tetua dari kedua pihak akan segera berkumpul, semua yang terlibat juga diikutsertakan dalam rembukan adat yang akan diakhiri dengan acara bersulang, minum sopi (minuman keras tradisional yang dibuat dari sadapan pohon lontar, agak rasanya manis tajam dengan aroma agak menyengat).
Naluri bersahabat itulah yang juga menjalari segenap warga Atambua ketika menyambut dengan tangan terbuka ribuan tetangganya dari Timtim yang tersuruk-suruk mencari perlindungan, mencari tempat aman dari kemelut yang terjadi di tanah Lorosae itu, September 1999.

Hal sama terjadi pula 24 tahun silam, ketika Timtim melepaskan diri dari kekuasaan Portugal yang sudah menghisapnya habis-habisan selama 4,5 abad.
Para pengungsi Timtim mengalir ke Atambua karena kota ini dapat dicapai dengan menempuh jarak 30 km dari Kabupaten Balibo (Maliana) Timtim lewat Batugede (Matoain) atau lewat Desa Haikesak. Dari Kabupaten Kovalima (Suai) Timtim lewat Kecamatan Kobalima berjarak 65 km.
Lebih dari itu, warga di kedua wilayah ini memang masih satu nenek moyang dari satuan-satuan sub suku yang dominan menghuni jazirah Timor.

Persoalan jadi lain ketika para sahabat dari tanah seberang terus mengalir. Semua pendatang itu tiba dalam keadaan tertekan akibat perang saudara. Butuh sandang, pangan, dan papan serta –yang paling utama– perlu perhatian.
Persoalan jadi lebih rumit karena para sahabat itu lari dari ‘negara’ sebelah. Ini berarti masalah internasional. Masalah dunia. Masalah antarbangsa. Karena itulah negara-negara yang terikat persahabatan dalam persekutuan bernama PBB, menaruh perhatian besar pada ‘sahabat-sahabat’ warga Atambua – Belu, itu.
Tapi kedamaian dan semangat persahabatan tuan rumah mulai terusik dan tercabik-cabik, ketika keberadaan dan perilaku pengungsi –yang kini jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah warga Atambua– mulai tidak terkontrol.

Ini, menyusul kerusuhan yang ditimbulkan ribuan pengungsi Timtim, yang antara lain menewaskan tiga staf asing UNHCR di Atambua. Selain itu, enam orang sipil, penduduk asli Atambua juga dianiaya dan dibunuh oleh para pengungsi Timtim yang kalap dan membumihanguskan 69 bangunan milik warga setempat itu.
“Pengungsi bertindak brutal dan membunuh staf UNHCR karena luapan kebencian mereka selama ini kepada badan dunia itu. UNHCR dinilai tidak hanya bekerja untuk kemanusiaan, tapi juga demi kepentingan politik tertentu,” pekik tokoh masyarakat Timtim di pengungsian, Nemecio Lopez de Carvalho.
Apa pun katanya, tindakan itu telah menyebabkan UNHCR angkat kaki. Pengungsi tak lagi ada yang mengurusi, dan akhirnya menyerang atau malah menjarah penduduk lokal untuk merebut makanan.
“Kami ini miskin semua, sekarang harus menanggung tambahan beban lebih 100 ribu jiwa. Sudah begitu, banyak pula yang tak tahu diri, merusak dan mengacau,” kata seorang warga Atambua yang dengan sedih harus mengungsi ke wilayah kabupaten tetangganya.

Saya pun  merasakan hal yang sama pasca kerusuhan th 1999. Saat itu saya masih kecil , belum tau apa apa. Tapi saya masih teringat sekali saya sering tidak di kasi bermain keluar oleh mama saya, karena sering terjadi baku tembak -- takutnya ada peluru nyasar. Saat itu , ering sekali saya melihat pesawat hercules berkeliaran di udara dengan ketinggian hampir tepat di atas atap rumah saya. Saangat rendah . Dampak kejadian ini adalah kakak lelaki saya pindah ke Bali, karena sudah lama dia tidak sekolah karena sekolahnya di pakai oleh para "sahabat" dari seberang. ya, kaka saya "mengungsi sendiri" ke Bali. Saya, bapak dan mama tetap di Atambua . Tenubot, daerah rumah saya. Yang semula sepi menjadi ramai . Hutan hutan jati menghilang. di ganti dengan tenda tenda, gentong air yang besar bertuliskan UNICEF.

Kini, keadaan jadi berbalik, tuan rumah yang lelah, gelisah, dan ketakutan terkepung dan diteror pengungsi, mulai mengambil keputusan: Melawan atau mengungsi.
Ternyata, lebih banyak yang memilih alternatif kedua, tapi tak ada satu pun badan nasional –apalagi internasional macam UNHCR– yang mengurusi nasib para pengungsi baru ini.
Warga setempat masih menganggap saudara-saudara mereka dari Timtim adalah sahabat yang sedang kesusahan. Mereka mencoba memahami tekanan fisik dan psikologis yang dialami para pengugsi, sehingga memilih mengalah, hengkang untuk sementara.

Meski tentu saja tidak semua, sebab ada saja yang bereaksi keras mempertahankan hak-haknya yang mereka rasa makin terusik dan terancam oleh hadirnya para pengungsi, eh sahabat-sahabatnya itu.
Artinya, di samping telah membuat PBB sewot hingga dewan keamanannya menerbitkan resolusi –yang bisa berarti mengundang sikap antipati internasional– insiden Atambua juga merobek bungkus persahabatan yang selama ini menyatukan mereka dalam penderitaan yang sama.

Maklum rakyat NTT juga sama miskinnya dengan rakyat Timtim. Malah pada saat masih berintegrasi, Timtim (wilayah yang cuma sepotong itu) meperoleh anggaran dari pusat lima sampai enam kali lebih besar dibanding anggaran dari pusat untuk NTT (yang wilayah berpenghuninya terdiri atas lebih dari 52 pulau!).
Jika sudah begini, kecemburuan lama –Timtim dimanja pusat, NTT dibiarkan– bisa saja menjalar lagi di kalangan penduduk NTT, terutama warga Atambua yang menerima beban paling berat sebagai kantong terbesar bagi pengungsi Timtim.

Semangat dan nilai persahabatan yang selama ini coba dirawat dan menjadi ruh dalam pergaulan mereka dengan pengungsi, tercabik sudah. Tak mustahil, keretakan ini akan memicu konflik horisontal di antara mereka.

Bukankah sering terjadi, sahabat berbalik jadi musuh bebuyutan yang dibakar dendam. Dendam muncul karena satu di antara dua pihak yang bersahabat itu mengkhianati persahabatan.
Kalau urusannya sudah khianat, jangankan sahabat yang notabene orang lain, saudara sedarah pun bisa saja baku bunuh. (*)

Saat ini Atambua telah berubah. Atambua mulai di lirik oleh para pembuat film Indonesia. Tak heran, beberapa tahun lalu Alinea Pictures telah mengangkat kisah th. 1999 dalam layar lebar berjudul "tanah Air Beta" dan tahun ini --2012 giliran Mira Lesmana bersama Sutradar Riri Riza membuat sebuah film , dengan judul sesuai dengan kota kelahiran saya "Atambua 39 Derajat celcius"
Berikut foto foto dari yang saya dapat dari Instagram @MirLes :

 Gereja Stella Maris dengan gaya Art Deco, di Atapupu. Gereja berusia 50 tahun ini akan diruntuhkan dalam waktu dekat. 
 Paling kanan adalah Manajer Lokasi Dicky Dewa, duduk bersama anak2 di kampung Haliwen, lokasi utama film
 Sutradara Riri Riza sedang memperlihatkan salah satu film kepada anak-anak kampung Haliwen di stadion bola Haliwen.

 Anak-anak menghabiskan waktu sore hari sambil memancing di sungai di daerah kampung Haliwen.
NB : dulu saya juga begitu ... pulang sekolah singgah dulu di sungai ini .. hehehe kami menyebutnya KALI BESAR (kali = sungai)



















Sumber, Twitter.com
              dwipuma.blogspot.com

Dewan Pastoral dan Dewan Keuangan Baru di Immaculata

Kevin Samara     22.56  No comments

Pengorbanan dalam karya pelayanan merupakan hal yang penting. Seperti Kristus yang berkorban sampai mati di kayu salib demi umatNya.

“Berkorban untuk gereja apa imbalannya dan berapa rupiah yang diberi oleh gereja ? Tidak ada uang duduk bagi seorang anggota DPP/DKP. Yang ada hanya pelayanan dengan semangat pengorbanan Kristus,” ujar Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Atambua, P. Yustus Asa, SVD saat melantik Dewan Pastoral dan Dewan Keuangan (Majelis Gereja Katolik)  Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua, Dekenat Belu Utara, Keuskupan Atambua Periode 2012-2015 pada Minggu, 1 Juli 2012.

Selanjut, mantan Provincial SVD Timor ini mengungkapkan refleksinya. Mengemban tugas ini berarti berbuat amal kasih bagi sesama. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas ini terletak pada saling membantu dalam kekurangan dan berbagi dalam tugas.

Menurut Vikjen, memang tidak mudah menjadi pemimpin zaman sekarang apalagi sebagai pemimpin umat, karena yang dituntut bukanlah upah tetapi pelayanan dan pengorbanan bagi umat Allah.

“Tugas ini tidak mudah, asal mengandalkan kekuatan dari Allah, semua pasti bisa,” pesan Pastor Yustus.

Sementara itu Pastor Paroki Romo Agustinus Berek, Pr dalam sambutannya mengatakan para anggota DPP/DKP merupakan orang terpilih dari ribuan umat Paroki Ktedral untuk menjalankan fungsi keimaman, kenabian dan raja.
Sembari mengutip kotbah Vikjen, Rm. Agus mengingatkan para anggota yang baru dilantik agar sungguh menyadari diri sebagai pelayan yang harus bekerja demi kemuliaan nama Tuhan dan keutamaan iman umat Paroki Katedral.
“Tugas berat yang sudah menanti dan harus diselesaikan anggota DPP/DKP periode ini yakni memekarkan Paroki Katedral,” ujar Romo Agus Berek, Pr.

Ketua I DPP yang baru dilantik Wenceslaus Fahik Moruk pada kesempatan itu mengungkapkan bahwa Paroki Katedral merupakan parokinya Uskup Atambua, sehingga semua umat harus berusaha memberikan yang terbaik demi kemajuan paroki karena Paroki Katedral adalah prototipe bagi paroki-paroki lain dalam Keuskupan Atambua.

Wens berharap agar terjalin kerjasama di antara semua anggota DPP/DKP dalam membangun iman umat Katolik di Paroki Katedral.

Pada Jumat (29/6) sebelum pelantikan, para anggota DPP dan DKP diberi pembekalan tentang fungsi dan tugas DPP dan DKP oleh Deken Belu Utara serta pedoman umum karya pastoral Paroki Katedral oleh Rm.Emanuel Siki, Pr. Sementara sehari sebelum pelantikan (30/6), para MGK diberi siraman rohani melalui rekoleksi oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Atambua (KA), Pater Yustus Asa, SVD.

Susunan Keanggotaan DPP/DKP Katedral Atambua :
Ketua Umum        : Pastor Paroki Katedral Atambua
Waket Umum        : Pastor Pembantu (Rm. Stefanus Bria, Pr)
Ketua I (Koord. BPI)        : Wenceslaus Fahik Moruk
Ketua II (Koord. BPU)    : Tisera Antonius
Ketua III (Koord. BAK)    : Alex Karel Lapia

Sekretaris Umum        : Dominggus Nahak
Sekretaris I        : Yohanes Naikofi
Sekretaris II        : Balthasar Eustachius Mali Tae
Sekretaris III        : Blasius Bria

Bendahara        : Pastor Pembantu (Rm.Mikhael Maumabe, Pr)
Bidang Pembinaan Iman :
a. Seksi Kitab Suci
Antonia Desiderata Kedati
Blasius Gero
Emilia Ili Mau
b. Seksi Liturgi
Sr. Ludiana, SSpS
Petrus Kanisius Teti
Agustina Asa
c. Seksi Katekese
Fransiska Romana
Sr. Vero, F.AdM
Imelda Faentaono
d. Seksi KKI
Serafina Leon
Sr. Klarentin, FSGM
e. Seksi Karya Misioner
Blasius Bau
Sr. Genoveva Mau, OSU
f. Seksi Panggilan:
Martinus Asa
Theodorus Kiik
Bidang Pendidikan Umat:
a. Seksi Pendidikan
Vincensius B. Loe
Yohanes Kali
Josefina Lopez
b. Seksi Komsos
Heribertus Lete
Simprosius Leki Dasi
c. Seksi Kerawam
Yohanes M.V. Bria
Daud Djawa
d. Seksi KP-PMP
Andreas Parera
e. Seksi Kepemudaan
Pius Seran
David Talok
Bidang Aksi Kemasyarakatan
a. Seksi Sosek
Ananias Letto
Blasius Wora
b. Seksi Keluarga
Pasutri Fransisco Salsinha-Christina Partilah
c. Seksi HAK:
Johanes Tefa.
Stefanus Bere.

Dewan Keuangan Paroki :
Ketua        : Pastor Paroki
Ketua I        : Willybrodus Lay
Ketua II        : Mikhael Tanjung
Ketua III        : Trensus Kapu
Sekretaris        : Yohanes Naikofi
Bendahara    : Pastor Pembantu (Rm. Emanuel Siki, Pr)
Anggota     :
1. M. K. Eda Fahik.
2. Herman Lombo.
3. Theresia Saik.
4. Daniel Bau.

Sumber, 24hoursworship.com

Tentang 2 Garis

Kevin Samara     22.31  No comments

Berawal dari bermain musik bersama saat kuliah di Jogjakarta, dua insani Ganis dan Goris yang mempunyai garis berbeda (Indonesia Barat dan Indonesia Timur) membawakan sebuah aliran musik pop kreatif dengan nuansa rock.

Dengan bekal malang melintang dari kafe ke kafe di jogja dan bandung, mereka sepakat membentuk sebuah duo ”2GaRis” dengan lagu-lagu yang sangat mudah dinikmati oleh pecinta musik Indonesia.

GANIS (Guitar)
Dilahirkan di Jogjakarta, mulai bermain musik beraliran rock klasik sejak masih dibangku SMP, mengikuti festival rock sejak SMA hingga mahasiswa. Saat ini masih bermain musik disalah satu kafe di Jogjakarta.

GORIS (Vocal)
Dilahirkan di kawasan perbatasan Indonesia – Timor Leste di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak di bangku sekolah SMA sudah malang melintang mengikuti festival di daerah kelahirannya hingga meneruskan pendidikan di bidang Pariwisata di Jogjakarta dan sebagai penyanyi di beberapa kafe Jogjakarta dan Bandung.
Tahun 2007 menjadi Pegawai Negeri Sipil Dinas Pariwisata Kabupaten Belu. Pada tahun 2008 – 2009 menjadi Duta Wisata propinsi NTT dan mewakili propinsi NTT dalam pemilihan final Duta Wisata Indonesia di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Tri (Guitar)
Terlahir di Jogjakarta yang notabene kota penuh seniman dan budaya yang sangat banyak, Tri sangat menyukai permainan Paul Gilbert. Gaya permainannya yang mencampurkan Gaya Paul Gilbert dan dirinya sendiri membuat 2GaRis semakin mantab. Tri sudah pengalaman makan asam garam di dunia musik melalui cafe ke cafe jawa maupun luar jawa.

April 2009 bersama band Universal Atambua, mewakili NTT di ajang pemilihan final AMild Live Wanted, Region Bali Nusra di Denpasar, Bali.

Dua Single Lagu 2GaRis “ November Bersemi” dan “ Luka” telah dilaunching pada akhir Oktober 2009 di Kupang, NTT.“ Suatu kehormatan besar bagi kami memilih kota Kupang sebagai Launching pertama 2GaRis mengingat sambutan masyarakat yang cukup antunsias terhadap musik Indonesia dan merupakan daerah potensial dalam bisnis Ring Back Tone (RBT) di kawasan Timur Indonesia”.

Ini Video sekaligus link download lagu terkenal mereka

November Bersemi. Selamat menyimak...


DOWNLOAD

Senin, 27 Agustus 2012

BBM di Atambua Langka

Kevin Samara     01.19  No comments

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Belu makin marak terjadi belakangan ini. Akibatnya, harga eceran melonjak tajam dan takarannya tidak sesuai dengan harga satuan per liter. Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah bersepakat untuk mengantisipasi kelangkaan BBM.

Dua warga Kota Atambua Edi Seran dan Saul Mael menyampaikan hal itu kepada VN, Rabu (22/8).
Edi Seran mengatakan, Pemkab Belu telah melakukan musyawarah dalam rapat Forkopimda untuk meredam maraknya kelangkaan BBM, tapi kenyataan di lapangan, masih terjadi kelangkaan di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Saat ini, yang masih jadi masalah serius adalah soal BBM. Di Atambua, BBM semakin hari semakin susah dicari. Harga bensin di eceran saja tidak sesuai dengan takarannya. Kelangkaan BBM makin marak terjadi. Saya tidak tahu siapa yang salah dan bertanggung jawab soal kelangkaan ini,” jelas dia.
Bahkan, sambung Seran, harga BBM jenis premium, misalnya, tidak sesuai dengan takaran sesungguhnya kalau dijual secara eceran. Padahal, sebelum terjadinya kelangkaan BBM, harga dan takaran BBM yang dijual secara eceran stabil.

“Harga BBM yang dijual secara eceran sekarang tidak sesuai lagi dengan takaran sesungguhnya. Misalnya, bensin yang dijual eceran di pinggir jalan raya dengan harga per liter Rp 5.000, tidak sesuai lagi dengan takarannya kalau diisi di dalam botol 1 liter. Bensin yang diisi di dalam botol 1 liter itu tidak penuh. Bahkan, setengah saja. Kalaupun penuh harganya berkisar Rp 6.000-7.000,” sebutnya.
Warga lainnya, Saul Naben menambahkan, kelangkaan BBM yang makin marak terjadi di Belu membuat antrean kendaraan makin panjang setiap hari. Bahkan terkadang, banyak SPBU ditutup lebih awal karena kehabisan BBM.

Ia juga menyebutkan harga eceran BBM jenis premium melonjak, padahal takarannya tidak sesuai lagi dengan takaran sesungguhnya sebelum terjadi kelangkaan BBM. Misalnya, harga eceran bensin per botol/liter dijual dengan Rp 5.000 tapi akhir-akhir ini harganya Rp 7.000.
Kepada unsur Forkopimda, ia berharap agar serius menjalankan hasil kesepakatan rapat Forkopimda beberapa waktu lalu sehingga kelangkaan BBM di Kabupaten Belu bisa ditekan.

Sumber, www.victorynewsmedia.com

Sabtu, 25 Agustus 2012

Gereja Baru Paroki Stella Maris Atapupu Atambua Diberkati

Kevin Samara     03.14  No comments
Ratusan umat paroki  Stela Maris Atapupu, memadati  halaman pelataran gereja. Kehadiran umat paroki yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste ini untuk menyaksikan secara langsung pentahbisan serta pemberkatan gereja baru Paroki Stella Maris Atapupu  yang dipimpin langsung oleh Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku Pr.

Selain umat, hadir pula puluhan imam, suster, bruder, frater diakon yang jumlahnya mencapai ratusan berbaur bersama umat mengikuti misa pentahbisan serta dies natalis ke -129 paroki Atapupu yang diawali dengan perarakan patung Bunda Maria bintang samudera (Stella Maris) diiringi taria-tarian daerah Belu yakni Likurai.
“Selama 7 tahun gereja ini dibangun. Bukan bangunan gereja yang penting tetapi hati kita harus tetap terarah kepada Tuhan. Hati kita adalah gereja mini. Bangunan gereja ini bisa runtuh tetapi hati kita tidak boleh runtuh. Praktek Yerusalem atau penyalahgunaan sikap yang tidak benar harus disingkirkan agar rumah gereja ini jadi tempat yang layak untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus, ” ujar Uskup Dominikus dalam kotbahnya di hadapan umat.

Dalam kesempatan ini Uskup Dominikus minta kepada umat Atambua untuk tetap merasa kerasan di rumahnya sendiri sekaligus menyinggung banyaknya TKI dan TKW yang pergi keluar negeri selain karena mencari uang juga tidak kerasan dengan tanah airnya atau rumahnya sendiri.

Misa pentahbisan paroki gereja stella maris atapupu yang berlangsung selama 4 jam dari pukul 09.00 wita hingga pukul 13.00 wita ini dihadiri oleh puluhan imam diosesan dan imam religius yang berkarya di keuskupan Atambua, para suster, bruder, frater, diakon, asisten 3 administrasi sekda propinsi NTT, kakanwil depag propinsi NTT, wakil ketua DPRD propinsi NTT drs. Anselmus Tallo SE, Sekda Belu Petrus Bere MM, para pejabat SKPD kabupaten Belu, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta para donatur dan dermawan yang membangun gereja atapupu. Sebagian besar para donatur berasal dari pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang dan Situbondo serta kupang dan Atambua.

Dalam perayaan ekaristi ini juga dilakukan upacara penguburan relikwi Sta. Klara dari Assisi di altar. Altar tersebut didedikasikan bagi Sta. Klara dari Assisi yang begitu luar biasa berdevosi terhadap sakramen ekaristi. Di dalam gereja terdapat 12 tiang penyangga sebagai lambang 12 rasul.

Gereja yang dibangun sejak awal tahun 2005 tersebut memakan dana sebesar 3. 581.000.000 rupiah dengan bantuan donatur dari pulau Jawa sebesar 1. 400.000.000 rupiah, Kementrian Agama RI sebesar 50 juta rupiah, para guru PNS agama katolik kabupaten Belu sebesar 96 juta rupiah, pengusaha Wilibrodus Lay sebesar 150 juta rupiah, Pemda Belu sebesar 40 juta rupiah, donatur kupang sebesar 45 juta rupiah, serta swakarya umat sebesar 400 juta rupiah serta swakarya uang real umat sebesar 750 juta.

Pentahbisan gereja yang bertepatan dengan dies natalis 129 tahun paroki Atapupu ini dihadiri pula umat dari keuskupan Maliana Timor Leste tepatnya paroki St. Antonius Balibo serta beberapa pastor Diosis Maliana.
Paroki Atapupu merupakan paroki tertua dikeuskupan Atambua yang berdiri pada 1 Agustus 1883 berdasarkan surat keputusan jenderal Hindia Belanda di Batavia. Pada 31 juli  1883 mengangkat P. Jacobus Craaijvanger SJ sebagai pastor pertama paroki Atapupu. Dalam usianya 129 tahun, telah dibangun sebanyak 5 kali gereja paroki atapupu.

Gereja pertama didirikan oleh P. Jacobus Craaijvanger SJ pada 1883. Gereja kedua atapupu dibangun oleh P. Van Swieten SJ di Ularo pada 1896. Gereja ketiga atapupu dibangun oleh imam SVD di Ularo. Gereja keempat dibangun oleh P.Yohanes Deuling SVD di Fatuluka pada tahun 1972 dan gereja kelima atapupu dibangun oleh Rm. Maximus Aloisius Bria Pr dan Rm. Yoris Samuel Giri Pr pada tahun 2012.

Pada tahun 1883 hingga tahun 1913 paroki atapupu dibawah pimpinan para imam Jesuit sebagai peletak dasar misi pulau Timor yakni oleh P. Jacobus Craaijvanger SJ, P. Hendrik Jansen SJ, P. Van Swieten SJ, P. Van de Velden SJ, P. Adrianus Mathijsen SJ, P. Jan Kremer SJ, P. Meraryven Thiel SJ, P. Jan Erthameyer SJ, P. Van De Putten SJ. Pada tahun 1913 imam-imam Jesuit menyerahkan tongkat misi tanah Timor ke tangan imam-imam SVD.

Umat paroki atapupu saat ini berjumlah 12.394 jiwa dalam 2.823 KK yang tersebar di 38 lingkungan terbagi dalam 135 KUB dengan 4 stasi yakni stasi pusat, stasi  St. Theodorus Silawan, stasi seroja serta stasi Lakafehan. Dari paroki ini telah lahir para imam seperti P. Stanislaus Besin SVD (1970), Rm. Dominikus Metak Pr (1974), P. Martinus Tali Meta SVD dan P. Silvester Asa CICM (2000), P. Daniel Pola Moruk SVD (2007), P. Gabriel Muki De Rozario SVD (2009), Rm. Pasqual Marques Pr (2011), ada 36 suster, 2 bruder, 1 frater BHK, 12 frater calon imam dan 6 seminaris.

Gereja baru dengan ukuran 38’5 x25 m2, yang dikerjakan secara gotong royong oleh umat sejak 1 agustus 2005 dengan perhitungan biaya awal Rp.993.037.000, namun kemudian terjadi perubahan perhitungan biaya menjadi Rp.1.245.400.000. Biaya pembangunan dibagi secara bijaksana kepada seluruh umat yang berdomisili di pusat paroki dengan sistim penyetoran secara bertahap,dan kini pembangunan gereja sudah hampir selesai dengan menghabiskan biaya sebesar Rp.858.364.000.  Sementara yang masih menjadi focus perhatian  saat ini adalah pemasangan kusen, instalasi listrik, sound system, Altar dan bangku dan kebutuhan interior lainnya.

Sumber, Sesawi.net
                http://aklahat.wordpress.com
                http://www.timorexpress.com

SMA 2 Atambua Cari Alamat Baru

Kevin Samara     02.59  No comments
Lokasi SMAN 2 Atambua yang saat ini berada di Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu dipertanyakan orangtua murid. Hal ini karena pengalihan lokasi pembangunan sekolah itu dari Desa Asuulun ke Tukuneno berindikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Salah satu orangtua murid yang menolak namanya ditulis, mengatakan bahwa pengalihan lokasi SMAN 2 Atambua dari Desa Asuulun ke Tukuneno diduga untuk menggolkan kepentingan segelintir pihak yang memiliki lahan di lokasi SMAN 2 Atambua, yakni di Desa Tukuneno.

“Pemindahan lokasi pembangunan SMAN 2 Atambua dari Desa Asuulun ke Tukuneno sepertinya dilatari kepentingan pejabat tertentu karena mereka punya tanah di Tukuneno. Dengan begitu, mereka bisa jual lahan ke pemerintah dengan harga mahal untuk bangun fasilitas pendidikan di sana,” ungkapnya kepada VN di Atambua, kemarin.

Menurutnya, kepentingan sejumlah pejabat pada lingkup Pemkab Belu membuat lokasi SMAN 2 Atambua yang awalnya harus dibangun di Desa Asuulun dipindahkan ke Desa Tukuneno.
“Saya curiga ini hanya permainan kepentingan para pejabat untuk dapat keuntungan besar dari pembebasan lahan nantinya. Ada sejumlah pejabat yang punya lahan di dekat SMAN 2 Atambua di Tukuneno. Nanti Pak Wartawan telusuri lebih lanjut lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PPO Belu Patrisius Asa menjelaskan, gedung SMAN 2 Atambua tidak bisa dibangun di Desa Asuulun karena tidak memenuhi syarat soal luas area. Selain itu, SMAN 2 Atambua dibangun di atas tanah milik Pemkab Belu.

“Tanah di Desa Asuulun tidak memenuhi syarat luas area untuk dibangun sekolah. Karena itu, lokasinya kita pindahkan ke Desa Tukuneno. Luas lahan yang dibutuhkan untuk bangun sekolah sekitar 2 hektare (ha). Sementara di Desa Asuulun tidak sampai 2 ha,” sebutnya.

Anggota Komisi C DPRD Belu Robert Bere Laka menegaskan lokasi SMAN 2 Atambua tidak layak untuk sebagai tempat anak didik menimba ilmu karena kenyamanan dan keselamatan mereka terancam.
Dia mengaku, lokasi pembangunan sekolah itu telah diparipurnakan DPRD bersama Pemkab Belu, tapi lokasi yang disepakati adalah di Desa Asu Ulun, Kecamatan Atambua Selatan.


Menurut dia, pihaknya kini berupaya menata halaman sekolah dan berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Belu untuk membuka akses transportasi ke sekolah itu. Hal tersebut untuk memudahkan akses ke lokasi sekolah.

Asa juga mengakui, ada sejumlah pejabat pemkab yang memiliki lahan di sekitar lokasi SMAN 2 Atambua saat ini. Tetapi, itu tidak bisa dipungkiri karena para pejabat tersebut berasal dari Desa Tukuneno. “Beberapa pejabat punya tanah di sekitar lokasi sekolah, Tapi mereka orang asli daerah itu. Misalnya, Kadistamben, Kepala BKKBN, Kabid TK/SD Dinas PPO dan ada pengusaha lain,” pungkasnya.

“Lokasi sekolah memang sangat tidak layak karena berada di tengah hutan dan perbukitan. Gedung sekolah dibangun di dalam legong atau lembah. Atapnya juga hampir rata dengan tanah. Jarak tempuh sekolah dari pemukiman warga juga jauh sekali dan sangat rentan kejahatan. Anak didik bisa jadi korban,” tuturnya.
Dia berharap, penegak hukum dan aktivis antikorupsi menelusuri kejanggalan, ketidaklayakan, dan perubahan lokasi SMAN 2 Atambua karena kemungkinan besar sarat KKN.


Sumber, Victory News

              Dengan Perubahan



Latest Stories

Blogroll New

Text Widget


Iklan ini milik Chelsea Net

Recent news

Iklan ini milik toko Merlin

About Us

Proudly Powered by Blogger.