Facebook Twitter Google RSS
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Kisah Tiga Kota

Kevin Samara     21.56  No comments

ATAMBUA

DI kantor UNHCR di Atambua seorang pekerja kemanusiaan menulis surat elektronik kepada kawannya jauh di Macedonia. Ia baru saja mendengar kabar mengenai ribuan perusuh yang menuju kantornya. Katanya ia merasa menjadi umpan untuk mereka. Terbayang perasaannya saat menulis, "Orang-orang ini bertindak tanpa berpikir dan bisa membunuh manusia semudah saya membunuh nyamuk di kamar saya."

Staf UNHCR ini, pengacara warga AS dari Puerto Rico, tidak tahu bahwa beberapa jam lagi ia akan mati meninggalkan e-mail untuk kesaksian seluruh dunia. Sejarah mencatat bahwa pada usia ke-31, Carlos Caceres-Collazo tewas sebagai salah satu dari tiga pegawai PBB yang dihabisi segerombolan milisi yang menyerbu kantor organisasi kemanusiaan itu. Dua rekannya Samson Aregahegh, warga Ethiopia, dan Pero Simundza, warga Croatia, dan dua pegawai lokal mengalami nasib sama. Dibunuh oleh parang dan pisau, disiram minyak tanah dan dibakar di halaman kantor. Dalam deretan peristiwa sesudahnya 20 orang tewas sementara 3000 orang perusuh mencekam Atambua, Betun dan sekitarnya, semua di wilayah Republik Indonesia.

Gara-gara kejadian ini, kehadiran PBB di NTT ditinjau kembali. Bersama dengan organisasi bantuan kemanusiaan lain, mereka telah menarik 400 pekerja dari wilayah ini. Yang mereka tinggalkan adalah 120.000 orang Timor Timur di kamp pengungsi Indonesia.

New York

Pada saat yang sama, Presiden Abdurrahman Wahid berada di New York membawa kehormatan nama Indonesia pada forum bersejarah. Ia datang untuk KTT Milenium dan menerima hadiah kepemimpinan global dari Universitas Columbia yang terpandang. Momen tragis di Atambua ternyata menciptakan momen memalukan bagi Gus Dur, pemimpin bangsa Indonesia. Belakangan ini Gus Dur banyak diganggu di dalam negeri, tetapi tetap dipuja di luar negeri.

Sekarang kita mendapat kejutan luar biasa. Disaksikan 150 kepala pemerintahan sedunia di Markas Pusat PBB di tepi East River, Sekjen PBB Kofi Annan mengawali sambutannya dengan mengajak para hadirin mengheningkan cipta untuk para pegawai kemanusiaan yang tewas di Atambua. Kata-katanya kemudian merupakan teguran keras kepada pemerintahan Indonesia. Walau dunia tahu bahwa Pemerintah Indonesia sekarang bukan rezim pembunuh, namun orang-orang PBB itu dibunuh oleh orang Indonesia di wilayah Indonesia. Presiden Clinton yang sejak tahun lalu amat menghormati Gus Dur menyatakan kekecewaannya yang mendalam. Ia dan pemimpin dunia lain meminta Indonesia melucuti senjata milisi dan menindak mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan.

Jakarta

Di Jakarta, kebanyakan orang tidak terlalu menyimak peristiwa Atambua, apalagi pengaruh yang akan diberikannya kepada kehidupan sehari-hari kita. Pameran mobil jalan terus, jalan macet dengan orang berbelanja.

Malah ada orang terdidik yang bertanya: Atambua itu di Timor Timur atau di Indonesia? Orang lebih asyik memprotes rencana pembelian pesawat jet mahal serupa Air Force One, padahal Gus Dur hanya basa-basi pada bos Boeing yang mendatanginya di Bandara Seattle. Orang sibuk membicarakan nilai rupiah dan IHSG, pencabutan subsidi BBM dan letter of intent. Padahal yang paling berdampak bagi masa depan kita bukan Air Force One, bukan LoI, bukan BBM, tetapi Atambua.

Pemerintah kita memang salah by omission, tidak mampu menguasai keadaan. Tidak perlu menyalahkan orang yang menyalahkan kita, apalagi membuat demo di kantor PBB. Bukan satu dua lembaga asing, tetapi seluruh dunia menunjuk pada Pemerintah Indonesia sebagai pihak yang bertanggung jawab. Syukurlah pemerintah melalui Menko Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan kelasnya dengan keterangan pers yang menyatakan keprihatinan dan simpati bagi para korban. Lebih penting lagi ada pernyataan marah pada perusuh dan penangkapan. Penting dicatat ucapan Menko Susilo bahwa sangat mungkin peristiwa ini didorong dengan sengaja oleh pihak-pihak yang ingin memunculkan ketidakstabilan pada pemerintah Gus Dur.

Menurutnya, "Indonesia akan mengambil langkah bijaksana, adil dan realistis untuk mengupayakan penyelesaian yang tetap." Walaupun belum mampu mengendalikan keadaan, sikap ini menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar.

Namun, paling besar penghargaan kita kepada pemimpin Timor Leste Jose Alexander Xanana Gusmao yang tidak mau ikut menghujat Indonesia. Di tengah kecaman internasional terhadap Indonesia, dia justru meminta agar para pemimpin dunia tetap mendukung pemerintahan Abdurrahman Wahid. Dijelaskannya penyerangan kelompok milisi terhadap markas UNHCR di Atambua itu sebagai upaya mendestabilisasi proses demokratisasi yang sedang dibangun pemerintahan baru di Indonesia.

Pada skala lebih praktis, jika kita gagal menghayati tragedi Atambua maka krisis akan makin berkepanjangan. IMF telah menyatakan kekhawatirannya bahwa insiden Atambua akan mempengaruhi opini negara donor tentang Indonesia dalam sidang CGI. Jika Pemerintah Indonesia masih tidak bisa atau tidak mau bertindak tegas, maka akan sulit memperoleh pinjaman baru. Ini bukan karena mereka ingin mengatur urusan dalam negeri Indonesia, tetapi karena mereka harus menghadapi rakyatnya masing-masing. Uang IMF itu uang rakyat negara lain yang khawatir terhadap pemerintah yang mengizinkan kekerasan.

Peristiwa di Atambua adalah versi lain berbagai kerusuhan yang dewasa ini banyak diciptakan pihak Orde Baru, mulai dari kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Disini ironi kedudukan Gus Dur. Toleransi untuk sistem lama membuka ruang gerak perusuh. Untuk mengamankan masa depan dalam visi Gus Dur, kita harus minta Gus Dur jangan terlalu santai. Soeharto harus diadili, koruptor tidak boleh dibiarkan. Kita harus menarik garis pemisah tebal terhadap masa lalu. Forum Demokrasi sendiri, salah satu tempat asal Gus Dur, mengatakan demikian. Menurut Fordem kemarin, beredarnya kembali kekuatan politik lama, yakni kekuatan Orde Baru, menghambat proses pertumbuhan demokrasi sekarang ini. Dalam film The Sixth Sense ada anak kecil yang bisa melihat orang mati berkeliaran. Dalam kenyataan kita, semua melihat orang yang mati moral masih merajalela.

Di New York, Presiden Abdurrahman Wahid menyerukan adanya kerja sama antarbangsa. Di Jakarta, kita ingin pekerjaan rumah membereskan urusan dalam negeri cepat membentuk wibawa pemerintah, agar tidak memikul kejahatan orang yang justru ingin menjatuhkannya. Kita tidak ingin melihat lagi skenario yang mengorbankan orang-orang yang sama sekali tidak berdosa, terakhir ini pekerja kemanusiaan yang sedang bertugas di Atambua, NTT, Indonesia.

Wimar Witoelar

Rabu, 29 Agustus 2012

Sedikit Cerita Tentang Atambua

Kevin Samara     23.11  No comments

Pero Simundza (30 tahun) lelaki gagah dari Kroasia — negeri pecahan Yugoslavia– di jazirah Balkan sana, mungkin tak pernah membayangkan bahwa pada hari kesembilan bulan Juni tahun 2000 hidupnya akan berakhir di Atambua, sebuah kota yang sangat boleh jadi tak pernah terbayangkannya ada tercantum dalam peta dunia yang dikenalnya.


Namun, kematian Simundza –bersama dua rekannya– secara dramatis telah membuat Atambua disebut bahkan oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Koffi Anan, juga oleh para pemimpin dunia. Tiba-tiba saja Atambua identik dengan kekerasan Indonesia. Tiba-tiba saja Atambua sama dengan ancaman bagi para pekerja lapangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ini membikin Presiden RI tampak betul-betul terpojok. Ketika itu, di dalam negeri ia sendang diuber-uber gosip ala Lewinsky, datang ke Sidang Milenium PBB ditonjok ancaman Clinton yang menyerukan dunia mengisolasi Indonesia gara-gara tewasnya tiga staf Komisi Tinggi PBB untuk Masalah Pengungsi (UNHCR) di Atambua.

Boleh jadi, Clinton pun baru dengar saat itu, ada kota bernama Atambua. Tapi toh ia mengutus Menteri Pertahanan, William Cohen ke Jakarta untuk mendesak Gus Dur.
“Imbauan” Clinton sang ‘sherif dunia’ itu direspon baik oleh PBB –yang memang seringkali lebih mendengar Amerika ketimbang anggota-anggota lain dalam serikat itu– yang dengan segera mengetukkan palu sidang untuk mengeluarkan resolusi bagi Indonesia.

Bayangkan, Atambua –yang semula tak terbayangkan ada dalam peta– ternyata terpapar di atas meja para wakil dunia di dalam majelis yang disebut PBB: Tok! Palu diketuk, dan Resolusi PBB No 1319 resmi dilayangkan ke meja penguasa Indonesia.

Isinya, semacam instruksi agar Pemerintah RI membubarkan milisi yang saat ini ada di Timor Barat, menyusul terjadinya serangan atas markas UNHCR yang menyebabkan tiga orang pekerja kemanusiaan PBB tewas, di Atambua.
Atambua?
Ya, Atambua adalah kota terbesar kedua di pulau kecil Timor bagian barat Letaknya kurang lebih 270 kilo meter sebelah timur Kupang, langsung berbatasan dengan ‘negara’ tetangga, Timor Timur. Sebelum dibanjiri pengungsi, suasana kota berpenduduk 20.000 jiwa ini sunyi, tenteram dan damai. Mirip kota para pensiunan.

Bangunan paling menonjol di pusat kota adalah Gereja Katedral St. Maria Immaculata Atambua,  Kantor Bupati dan Gedung DPRD yang sekaligus menunjukkan bahwa Atambua adalah ibu kota kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Lapangan umum Atambua beserta gedung DPRD





Belu, dalam bahasa Tetun –bahasa lokal yang paling banyak digunakan penduduk Timor di bagian tengah hingga ke timur pulau itu, dan kini digunakan sebagai bahasa sehari-hari Timtim– berarti sahabat.

Penduduk asli Belu terdiri atas dua sub suku yang paling dominan, yakni Kemak dan Marae. Karakteristik umum orang-orang Kemak dan Marae ramah, terbuka, mudah akrab, lembut, dan menghindari konflik. Karena itu, mereka lebih sering memilih upaya damai untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Kalaupun ada masalah antartetangga atau antarkampung, para tetua dari kedua pihak akan segera berkumpul, semua yang terlibat juga diikutsertakan dalam rembukan adat yang akan diakhiri dengan acara bersulang, minum sopi (minuman keras tradisional yang dibuat dari sadapan pohon lontar, agak rasanya manis tajam dengan aroma agak menyengat).
Naluri bersahabat itulah yang juga menjalari segenap warga Atambua ketika menyambut dengan tangan terbuka ribuan tetangganya dari Timtim yang tersuruk-suruk mencari perlindungan, mencari tempat aman dari kemelut yang terjadi di tanah Lorosae itu, September 1999.

Hal sama terjadi pula 24 tahun silam, ketika Timtim melepaskan diri dari kekuasaan Portugal yang sudah menghisapnya habis-habisan selama 4,5 abad.
Para pengungsi Timtim mengalir ke Atambua karena kota ini dapat dicapai dengan menempuh jarak 30 km dari Kabupaten Balibo (Maliana) Timtim lewat Batugede (Matoain) atau lewat Desa Haikesak. Dari Kabupaten Kovalima (Suai) Timtim lewat Kecamatan Kobalima berjarak 65 km.
Lebih dari itu, warga di kedua wilayah ini memang masih satu nenek moyang dari satuan-satuan sub suku yang dominan menghuni jazirah Timor.

Persoalan jadi lain ketika para sahabat dari tanah seberang terus mengalir. Semua pendatang itu tiba dalam keadaan tertekan akibat perang saudara. Butuh sandang, pangan, dan papan serta –yang paling utama– perlu perhatian.
Persoalan jadi lebih rumit karena para sahabat itu lari dari ‘negara’ sebelah. Ini berarti masalah internasional. Masalah dunia. Masalah antarbangsa. Karena itulah negara-negara yang terikat persahabatan dalam persekutuan bernama PBB, menaruh perhatian besar pada ‘sahabat-sahabat’ warga Atambua – Belu, itu.
Tapi kedamaian dan semangat persahabatan tuan rumah mulai terusik dan tercabik-cabik, ketika keberadaan dan perilaku pengungsi –yang kini jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah warga Atambua– mulai tidak terkontrol.

Ini, menyusul kerusuhan yang ditimbulkan ribuan pengungsi Timtim, yang antara lain menewaskan tiga staf asing UNHCR di Atambua. Selain itu, enam orang sipil, penduduk asli Atambua juga dianiaya dan dibunuh oleh para pengungsi Timtim yang kalap dan membumihanguskan 69 bangunan milik warga setempat itu.
“Pengungsi bertindak brutal dan membunuh staf UNHCR karena luapan kebencian mereka selama ini kepada badan dunia itu. UNHCR dinilai tidak hanya bekerja untuk kemanusiaan, tapi juga demi kepentingan politik tertentu,” pekik tokoh masyarakat Timtim di pengungsian, Nemecio Lopez de Carvalho.
Apa pun katanya, tindakan itu telah menyebabkan UNHCR angkat kaki. Pengungsi tak lagi ada yang mengurusi, dan akhirnya menyerang atau malah menjarah penduduk lokal untuk merebut makanan.
“Kami ini miskin semua, sekarang harus menanggung tambahan beban lebih 100 ribu jiwa. Sudah begitu, banyak pula yang tak tahu diri, merusak dan mengacau,” kata seorang warga Atambua yang dengan sedih harus mengungsi ke wilayah kabupaten tetangganya.

Saya pun  merasakan hal yang sama pasca kerusuhan th 1999. Saat itu saya masih kecil , belum tau apa apa. Tapi saya masih teringat sekali saya sering tidak di kasi bermain keluar oleh mama saya, karena sering terjadi baku tembak -- takutnya ada peluru nyasar. Saat itu , ering sekali saya melihat pesawat hercules berkeliaran di udara dengan ketinggian hampir tepat di atas atap rumah saya. Saangat rendah . Dampak kejadian ini adalah kakak lelaki saya pindah ke Bali, karena sudah lama dia tidak sekolah karena sekolahnya di pakai oleh para "sahabat" dari seberang. ya, kaka saya "mengungsi sendiri" ke Bali. Saya, bapak dan mama tetap di Atambua . Tenubot, daerah rumah saya. Yang semula sepi menjadi ramai . Hutan hutan jati menghilang. di ganti dengan tenda tenda, gentong air yang besar bertuliskan UNICEF.

Kini, keadaan jadi berbalik, tuan rumah yang lelah, gelisah, dan ketakutan terkepung dan diteror pengungsi, mulai mengambil keputusan: Melawan atau mengungsi.
Ternyata, lebih banyak yang memilih alternatif kedua, tapi tak ada satu pun badan nasional –apalagi internasional macam UNHCR– yang mengurusi nasib para pengungsi baru ini.
Warga setempat masih menganggap saudara-saudara mereka dari Timtim adalah sahabat yang sedang kesusahan. Mereka mencoba memahami tekanan fisik dan psikologis yang dialami para pengugsi, sehingga memilih mengalah, hengkang untuk sementara.

Meski tentu saja tidak semua, sebab ada saja yang bereaksi keras mempertahankan hak-haknya yang mereka rasa makin terusik dan terancam oleh hadirnya para pengungsi, eh sahabat-sahabatnya itu.
Artinya, di samping telah membuat PBB sewot hingga dewan keamanannya menerbitkan resolusi –yang bisa berarti mengundang sikap antipati internasional– insiden Atambua juga merobek bungkus persahabatan yang selama ini menyatukan mereka dalam penderitaan yang sama.

Maklum rakyat NTT juga sama miskinnya dengan rakyat Timtim. Malah pada saat masih berintegrasi, Timtim (wilayah yang cuma sepotong itu) meperoleh anggaran dari pusat lima sampai enam kali lebih besar dibanding anggaran dari pusat untuk NTT (yang wilayah berpenghuninya terdiri atas lebih dari 52 pulau!).
Jika sudah begini, kecemburuan lama –Timtim dimanja pusat, NTT dibiarkan– bisa saja menjalar lagi di kalangan penduduk NTT, terutama warga Atambua yang menerima beban paling berat sebagai kantong terbesar bagi pengungsi Timtim.

Semangat dan nilai persahabatan yang selama ini coba dirawat dan menjadi ruh dalam pergaulan mereka dengan pengungsi, tercabik sudah. Tak mustahil, keretakan ini akan memicu konflik horisontal di antara mereka.

Bukankah sering terjadi, sahabat berbalik jadi musuh bebuyutan yang dibakar dendam. Dendam muncul karena satu di antara dua pihak yang bersahabat itu mengkhianati persahabatan.
Kalau urusannya sudah khianat, jangankan sahabat yang notabene orang lain, saudara sedarah pun bisa saja baku bunuh. (*)

Saat ini Atambua telah berubah. Atambua mulai di lirik oleh para pembuat film Indonesia. Tak heran, beberapa tahun lalu Alinea Pictures telah mengangkat kisah th. 1999 dalam layar lebar berjudul "tanah Air Beta" dan tahun ini --2012 giliran Mira Lesmana bersama Sutradar Riri Riza membuat sebuah film , dengan judul sesuai dengan kota kelahiran saya "Atambua 39 Derajat celcius"
Berikut foto foto dari yang saya dapat dari Instagram @MirLes :

 Gereja Stella Maris dengan gaya Art Deco, di Atapupu. Gereja berusia 50 tahun ini akan diruntuhkan dalam waktu dekat. 
 Paling kanan adalah Manajer Lokasi Dicky Dewa, duduk bersama anak2 di kampung Haliwen, lokasi utama film
 Sutradara Riri Riza sedang memperlihatkan salah satu film kepada anak-anak kampung Haliwen di stadion bola Haliwen.

 Anak-anak menghabiskan waktu sore hari sambil memancing di sungai di daerah kampung Haliwen.
NB : dulu saya juga begitu ... pulang sekolah singgah dulu di sungai ini .. hehehe kami menyebutnya KALI BESAR (kali = sungai)



















Sumber, Twitter.com
              dwipuma.blogspot.com

Latest Stories

Blogroll New

Text Widget


Iklan ini milik Chelsea Net

Recent news

Iklan ini milik toko Merlin

About Us

Proudly Powered by Blogger.